Filosofi Catur

Catur adalah lukisan sebuah kontes, peperangan tak berdarah, sebuah gambaran, tidak hanya operasi militer sesungguhnya, tetapi perang yang lebih besar dimana setiap insan di bumi, dari ayunan hingga ke liang lahat, terus berjuang dalam hidupnya.

 

Kebaikannya laksana pasir di Gurun Sahara yang tak terhingga jumlahnya. Catur menyembuhkan jiwa yang sakit dan memberi terapi agar menjadi sehat. Catur juga tempat istirahat bagi intelek yang kelebihan kerja. dan memberikan rasa santai bagi badan yang lelah. Catur mengurangi kesedihan bagi jiwa yang murung, dan menambah kebahagiaan bagi yang lagi bersuka cita. Catur juga mengajari orang marah untuk mengendalikan emosinya, jiwa “cengengesan” menjadi serius, penakut menjadi gagah berani, ceroboh menjadi lebih hati-hati. Ia memberi rona keceriaan pada pemuda, kebahagiaan yang penuh wibawa terhadap kemanusiaan, dan pelipur lara bagi yang berumur tua. Catur merayu si miskin agar tak selalu ingat kemiskinannya, yang kaya agar tidak ceroboh dengan kekayaannya.

 

Catur mengingatkan raja agar mencintai dan menghormati rakyatnya, dan menyuruh rakyatnya agar patuh dan tunduk pada rajanya. Ia menunjukkan bagaimana orang rendahan, dengan kerja dan usaha keras bisa menduduki posisi yang mulia, dan raja yang kikir dan sombong, yang memelihara watak jelek dan menyalahgunakan jabatan bisa tersungkur dari kursi keagungannya.

 

Catur merupakan hiburan dan sebuah karya seni, olahraga serta ilmu. Yang terpelajar dan yang kurang terdidik, yang tinggi dan yang rendah, yang kuat dan yang lemah, mengakui kemolekannya, terpana akan bujukannya. Mula-mula kita belajar untuk menyukainya, tetapi setelah dekat keindahannya mulai bertambah, dan saat ia mulai mengurai pelajarannya, semangat semakin kuat, dan kecintaan kita semakin lekat.